Khamis, 18 Oktober 2012

Syair Perahu



inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah
membetuli jalan tempat berpindah
di sanalah iktikad diperbetuli sudah

wahai muda kenali dirimu
ialah perahu tamsil tubuhmu
tiadalah berapa lama hidupmu
ke akhirat jua kekal diammu

hai muda arif-budiman
hasilkan kemudi dengan pedoman
alat perahumu jua kerjakan
itulah jalan membetuli insan

perteguh jua alat perahumu
hasilkan bekal air dan kayu
dayung pengayuh taruh di situ
supaya laju perahumu itu

sudahlah hasil kayu dan ayar
angkatlah pula sauh dan layar
pada beras bekal jantanlah taksir
nescaya sempurna jalan yang kabir

perteguh jua alat perahumu
muaranya sempit tempatmu lalu
banyaklah di sana ikan dan hiu
menanti perahumu lalu dari situ

muaranya dalam, ikanpun banyak
di sanalah perahu karam dan rusak
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak

ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang

muaranya itu terlalu sempit
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit
sempurnalah jalan terlalu ba’id
 
baiklah perahu engkau perteguh
hasilkan pendapat dengan tali sauh
anginnya keras ombaknya cabuh
pulaunya jauh tempat berlabuh

lengkapkan pendarat dan tali sauh
derasmu banyak bertemu musuh
selebu rencam ombaknya cabuh
la ilaha illallahu akan tali yang teguh

barang siapa bergantung di situ
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju
selamat engkau ke pulau itu

la ilaha illallahu jua yang engkau ikut
di laut keras dan topan ribut
hiu dan paus di belakang menurut
pertetaplah kemudi jangan terkejut

laut silan terlalu dalam
di sanalah perahu rusak dan karam
sungguhpun banyak di sana menyelam
larang mendapat permata nilam

laut silan wahid al kahhar
riaknya rencam ombaknya besar
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar

itulah laut yang maha indah
ke sanalah kita semuanya berpindah
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah

silan itu ombaknya kisah
banyaklah akan ke sana berpindah
topan dan ribut terlalu ‘azamah
perbetuli pedoman jangan berubah

laut kulzum terlalu dalam
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam
perbaiki na’am, siang dan malam
 
ingati sungguh siang dan malam
lautnya deras bertambah dalam
anginpun keras, ombaknya rencam
ingati perahu jangan tenggelam

jikalau engkau ingati sungguh
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh

sampailah ahad dengan masanya
datanglah angin dengan paksanya
belajar perahu sidang budimannya
berlayar itu dengan kelengkapannya

wujud allah nama perahunya
ilmu allah akan [dayungnya]
iman allah nama kemudinya,
“yakin akan allah” nama pawangnya

“taharat dan istinja’” nama lantainya
“kufur dan masiat” air ruangnya
tawakkul akan allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya

salat akan nabi tali bubutannya
istigfar allah akan layarnya
“allahu akbar” nama anginnya
subhan allah akan lajunya

“wallahu a’lam” nama rantaunya
“iradat allah” nama bandarnya
“kudrat allah” nama labuhannya
“surga jannat an naim nama negerinya

karangan ini suatu madah
mengarangkan syair tempat berpindah
di dalam dunia janganlah tam’ah
di dalam kubur berkhalwat sudah

kenali dirimu di dalam kubur
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur
di balik papan badan terhancur

di dalam dunia banyaklah mamang
ke akhirat jua tempatmu pulang
janganlah disusahi emas dan wang
itulah membawa badan terbuang

tuntuti ilmu jangan kepalang
di dalam kubur terbaring seorang
munkar wa nakir ke sana datang
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang

tongkatnya lekat tiada terhisab
badanmu remuk siksa dan azab
akalmu itu hilang dan lenyap

munkar wa nakir bukan kepalang
suaranya merdu bertambah garang
tongkatnya besar terlalu panjang
cabuknya banyak tiada terbilang

kenali dirimu, hai anak dagang
di balik papan tidur telentang
kelam dan dingin bukan kepalang
dengan siapa lawan berbincang

la ilaha illallahu itulah firman
tuhan itulah pergantungan alam sekalian
iman tersurat pada hati insaf
siang dan malam jangan dilalaikan

la ilaha illallahu itu terlalu nyata
tauhid ma’rifat semata-mata
memandang yang gaib semuanya rata
lenyapkan ke sana sekalian kita

la ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah
sekalian makhluk ke sana berpindah
da’im dan ka’im jangan berubah
khalak di sana dengan la ilaha illallahu

la ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan
siang dan malam jangan kau sunyikan
selama hidup juga engkau pakaikan
allah dan rasul juga yang menyampaikan

la ilaha illallahu itu kata yang teguh
memadamkan cahaya sekalian rusuh
jin dan syaitan sekalian musuh
hendak membawa dia bersungguh-sungguh

la ilaha illallahu itu kesudahan kata
tauhid ma’rifat semata-mata
hapuskan hendak sekalian perkara
hamba dan tuhan tiada berbeda

la ilaha illallahu itu tempat mengintai
medan yang kadim tempat berdamai
wujud allah terlalu bitai
siang dan malam jangan bercerai

la ilaha illallahu itu tempat musyahadah
menyatakan tauhid jangan berubah
sempurnalah jalan iman yang mudah
pertemuan tuhan terlalu susah


-Hamzah Fansuri-

0 comments: